Arsip | BERITA RSS feed for this section

Jihadku didepan Gedung Putih

6 Apr
Ada yang menarik dari berita yang satu ini mengenai jihad, jihad membangun Islam dan mengenal tentang Islam, selengkapnya………….. 

Mohammad Ali Salih tinggal di Washington, AS sejak tahun 1980 dan bekerja sebagai wartawan koresponden untuk sejumlah surat kabar berbahasa Arab dan beberapa majalah yang terbit di Timur Tengah. Peristiwa serangan 11 September 2001 di AS membuatnya sedih, marah dan frustasi karena tidak mendapatkan ruang untuk menyuarakan opininya di media masa AS bahwa serangan 11 September itu hanya “kendaraan” buat George.W Bush-presiden AS ketika itu-untuk mengobarkan perang di negara-negara Muslim.

 

Untuk mengobati rasa marah dan kecewanya, Mohammad Ali Salih memutuskan untuk melakukan aksi unjuk rasa di depan Gedung Putih. Tak seperti para aktivis lainnya yang juga menentang perang AS di negeri-negeri Muslim, mereka berunjuk rasa beramai-ramai, meneriakan slogan-slogan, berjalan kaki atau berorasi, Ali berunjuk rasa sendirian saja.

“Beberapa hari menjelang berakhirnya pemerintahan Bush, saya memulai kampanye saya di depan Gedung Putih setiap akhir pekan. Saya cuma diam sambil membentangkan spanduk, yang satu bertuliskan ‘Apa Itu Terorisme?’ dan satunya lagi bertuliskan “Apa Itu Islam?,” tulis Alih Salih dalam tulisannya yang dimuat surat kabar The Washington Post edisi Sabtu (16/1).

Di bawah spanduk itu, terdapat tulisan dengan huruf-huruf berukuran kecil “Saya akan berada di sini sampai mati”. Saat melakukan aksi protesnya, Ali mengenakan setelan jas rapi berwarna gelap, tidak mau terlibat dalam perdebatan dan hanya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan orang dengan jawaban pendek-pendek saja dan suara yang pelan.

Ali meyakini apa yang dilakukannya itu adalah bagian dari pesan yang ingin disampaikannya. “Tujuan saya adalah mendapatkan perhatian dari media massa dan menggalang donasi secara online agar ketika saya memutuskan untuk berhenti bekerja, saya bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari,” tulis Ali.

Ali tidak mau mengganggu rencana isterinya yang ingin menghabiskan masa pensiun mereka di Florida. Ali sudah memperhitungkan bahwa ia sudah akan pensiun dari pekerjaannya pada musim dingin, lalu membuka usaha sendiri dan merancang jadwal “jihad”nya di depan Gedung Putih.

“Saya akan bertambah tua dan mungkin tidak bisa berdiri lagi atu menggunakan kursi roda. Saya sudah membayangkan, saya akan meninggal di depan Gedung Putih sambil membawa spanduk saya ini,” sambung Ali.

Tetapi Ali berubah pikiran ketika Barack Obama terpilih menjadi presiden AS. Ia terpesona dan yakin akan janji-janji Obama saat berkampanye, yang katanya akan mengakhiri kebijakan-kebijakan militeristik dan antagonis yang diterapkan Bush, mengubah tensi politik di Washington, memberikan harapan dan meringankan kesulitan rakyat AS yang saat itu sedang dilanda krisis ekonomi. Apalagi ketika Obama berkunjung ke Kairo dan menjanjikan hubungan yang damai dengan dunia Islam serta menyerukan Israel agar menghentikan kebijakan ekspansinya.

“Obama ketika itu, konon menginstruksikan para pejabat pemerintahannya untuk tidak lagi menggunakan istilah ‘perang melawan teror’,” tulis Ali dalam artikelnya.

Tapi setelah satu tahun mengamati pemerintahan Obama, Ali berkesimpulan bahwa Obama sama saja dengan para politisi pada umumnya yang memiliki tipikal banyak mengumbar janji hanya untuk mendapatkan dukungan suara banyak dari rakyat. Ali sampai pada kesimpulannya itu setelah melihat sikap Obama dan pemerintahannya yang ternyata tidak punya nyali untuk menciptakan perdamaian bagi dunia Islam dan tidak berniat untuk mengakhiri ketidakadilan yang telah dilakukan AS terhadap umat Islam atas nama “perang melawan terorisme”.

“Saya melihat tidak semua umat Islam senang pada Obama atau mau bekerjasama dengan Obama. Sebagian Muslim tetap mendukung penjajahan AS di Irak dan Afghanistan sebagian lagi tidak dan membenci bombardir yang dilakukan AS di Pakistan dan Somalia, membenci tekanan yang dilakukan AS terhadap Suriah dan Iran dan membenci campur tangan AS di negara-negara Muslim, misalnya Yaman,” papar Ali.

Ali berpendapat, persoalan dasar yang dihadapi Obama dan pemerintahannya adalah ketidakmampuan mereka untuk memahami atau mungkin penyangkalan mereka terhadap apa yang diajarkan kitab suci Al-Quran pada umat Islam, bahwa seorang Muslim harus berani melawan ketidakadilan, terutama jika Muslim diperlakukan tidak adil oleh non-Muslim. Dan ajaran itu terwujud dalam bentuk perlawanan umat Islam terhadap penjajahan dan serangan militer yang dilakukan AS di negeri-negeri Muslim. Tapi bagi AS, perlawanan itu mereka definisikan sebagai terorisme.

Kesadaran Ali atas penindasan yang dilakukan Barat, khususnya AS di negeri-negeri Muslim muncul kembali ketika ia membaca berita tentang lima Muslim AS yang ditangkap di Pakistan bulan Desember lalu. Di pengadilan Pakistan, lima pemuda Muslim AS menegaskan bahwa mereka bukan anggota Al-Qaida seperti yang dituduhkan dan bahwa mereka tidak berniat menimbulkan kekacauan di Pakistan. Kelima pemuda itu mengatakan bahwa mereka sedang dalam perjalanan menuju Afghanistan untuk melakukan jihad melawan penjajahan pasukan asing di negeri itu.

Salah seorang pemuda Muslim itu mengatakan bahwa mereka bukan teroris tapi mereka adalah para jihadis dan jihad bukanlah terorisme. Kuasa hukum kelima pemuda itu juga mengatakan bahwa kliennya hanya “ingin membantu sesama Muslim yang tidak berdaya”.

Pernyataan kuasa hukum kelima pemuda Muslim itu mengingatkan Ali kembali pada aksi protes di depan Gedung Putih yang pernah dilakukannya. “Saya tidak mau berdebat apakah mereka ‘jihadis’ atau ‘teroris’. Apakah mereka ‘seorang martir’ atau ‘pengkhianat’ . Apakah mereka seharusnya mereka diadili di pengadilan sipil atau militer ketika dideportasi ke AS. Tapi yang saya yakini seperti yang mereka katakan bahwa jihad bukan terorisme,” tukas Ali.

Ali menegaskan bahwa istilah terorisme itu sendiri belum jelas definisinya bahkan PBB belum sepakat soal definisi terorisme. Ia mengutip isi Al-Quran yang menyebutkan bahwa seorang Muslim yang beriman lebih dekat pada Allah dibandingkan mereka yang tidak beriman. Seorang Muslim yang beriman harus bersedia mengorbankan harta, waktu, keluarga bahwa hidupnya untuk melawan ketidakadilan.

Saya mungkin belum cukup beriman untuk mengorbankan harta, keluarga atau hidup saya. Tapi saya akan melanjutkan jihad saya di depan Gedung Putih pada pekan ini dengan tenang, damai dan sendirian saja,” tandas Ali.

(sumber:Eramuslim.com ln/isc/twp)
Catatan Admin :
Selamat berjuang dan menegakkan Islam
Islam bukan teror, dan teror bukan Islam

Facebook ditutup

12 Jan

Berita mengejutkan kepada para penggemar Facebook

Baru-baru ini pemilik Facebook mengeluhkan pusingnya mengurus Facebook, dan rencananya akan menutup Jejaring Sosial Facebook baca selengkapnya…………..

fotoMark Zuckerberg. AP/Jeff Chiu

TEMPO Interaktif, Sebuah rumor yang bikin heboh berkembang pesat di internet: Facebook akan ditutup pada 15 Maret 2011. Ternyata rumor itu adalah hoax alias lelucon.

Facebook membantah rumor tersebut. “Kami tidak mendapat pemberitahuan apapun soal penutupan, jadi kami terus bekerja,” tulis Facebook seperti dikutip dari AFP, Senin (10/1).
Rumor Facebook pertama kali ditutup muncul di situs komedi satir yang memuat berita-berita asal, nama situs itu WeeklyWorldNews.com, situs tersebut juga membuat berita-berita asal seperti “Alien akan Menyerang Bumi pada 2011″ dan “George Clooney akan Maju sebagai Presiden.”
Soal berita Facebook ditutup di situs WeeklyWorldNews.com itu juga ditulis pernyataan pendiri Facebook Mark Zuckerberg. “Faceebok membuatku stres, aku tidak bisa mengontrol perusahaan ini lagi, aku perlu mengakhiri semua ini,” kata Zuckerberg seperti di tulis situs itu.
Berita itu mendadak menyebar cepat seperti virus, di Twitter, di Facebook, semua bertanya-tanya. Mereka awalnya bingung sumber berita tersebut. Ternyata setelah ditelusuri, seperti yang ditulis oleh About.com dan CNET, berita itu berawal dari situs komedi satir, WeeklyWorldNews.com.
Facebook adalah situs jejaring sosial terbesar di dunia. Pemilik akun Facebook saat ini sudah lebih dari 500 juta, sebanyak 146 juta adalah penduduk Amerika Serikat, adapun Indonesia berada di peringakat kedua dengan jumlah pengguna lebih dari 32 juta.
Selengkapnya berita ini ada di

http://www.tempointeraktif.com/hg/it/2011/01/10/brk,20110110-304964,id.html

Cerita Gayus Lagi

10 Jan

Bersumpah demi Ibu dan Anak

Pleidoi setebal 18 halaman itu dibacakan Gayus Halomoan berapi-api di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin pekan lalu. Diberi judul cukup puitis, “Indonesia Bersih… Polisi Risih… Saya Tersisih”, isinya menohok ke mana-mana: kepolisian, kejaksaan, pengacaranya, juga “almamater”-nya, Direktorat Jenderal Pajak.

Gayus, misalnya, menuding polisi tak serius mengusut sejumlah informasi yang sudah ia beberkan. Menurut Gayus, kasus yang menjerat dirinya itu juga tergolong kecil dibanding kasus lain di Ditjen Pajak. Penyelewengan itu ada yang melibatkan sejumlah pejabat dan merugikan negara hingga triliunan rupiah. “Sepertinya ada setting melokalisasi perkara hanya pada perkara saya,” ujarnya.

Gayus membeberkan lima modus permainan pajak yang kerap terjadi, di antaranya negosiasi Surat Ketetapan Pajak. Negosiasi, ujar Gayus, terjadi di tingkat tim pemeriksa pajak dengan tujuan meningkatkan dan menurunkan nilai pajak. “Surat Ketetapan Pajak tak mencerminkan nilai yang sebenarnya.”

Modus lain, kata Gayus, terjadi di tingkat penyidikan pajak. Dalam kasus ini, wajib pajak akan ditakut-takuti untuk dijadikan tersangka oleh penyidik. “Yang ujung-ujungnya adalah uang,” dia menambahkan. Ketiga, modus penyelewengan fiskal luar negeri di bandar-bandar udara internasional. Keempat, modus penghilangan berkas surat permohonan keberatan wajib pajak. Dan kelima, jual-beli saham antarperusahaan satu grup. Pembelian saham ini, menurut dia, sering diklaim sebagai kerugian investasi sehingga kerugian itu dibebankan sebagai biaya.

Gayus mengkritik pedas tim independen pimpinan Matius Salempang, yang memeriksa dirinya pada April 2010. Gayus menyatakan dirinya menyesal mengikuti permainan tim independen.

Menurut Gayus, kasus PT Surya Alam Tunggal merupakan skenario yang dibuat tim Matius untuk menjerat atasannya, Bambang Heru Ismiarto, Direktur Keberatan dan Banding Ditjen Pajak. “Karena Bambang Herulah kunci dikabulkannya kasus-kasus besar di direktorat tersebut,” katanya. Jika kunci ini dibuka, ujarnya, kasus penyelewengan pajak kelas kakap di direktorat itu bisa terungkap.

Tapi, kata Gayus, ternyata semua berbalik dan justru dirinya dan rekannya, Humala Napitupulu, jadi tersangka. Padahal, menurut Gayus, sesungguhnya tak ada permainan pajak dalam kasus PT Surya Alam. “Saya bersumpah demi Tuhan dan demi ibu yang melahirkan saya, serta anak saya yang sangat saya sayangi, keberatan PT Surya Alam Tunggal seribu persen sesuai dengan prosedur,” kata Gayus.

Gayus juga menyatakan kecewa atas janji tim independen dalam kasus hakim Muhtadi Asnun. Awalnya, kata dia, tim ini berjanji akan menjerat Asnun dengan pasal pemerasan asal dirinya bersedia buka mulut soal pemberian uang terhadap hakim itu. Belakangan penyidik mengenakan pasal penyuapan dalam kasus ini. Maka dirinya pun jadi tersangka penyuap.

Bekas pengacaranya, Haposan Hutagalung, juga dituding Gayus telah mempermainkan dirinya. Dalam menangani kasus korupsi dan pencucian uang pada 2009, ujarnya, Haposan minta uang operasional Rp 20 miliar untuk dibagi-bagikan kepada polisi, jaksa, hakim, dan Haposan sendiri. Alasannya, uang itu untuk memuluskan perkara agar ia tak ditahan, rumahnya tak disita, dan rekening keluarganya tak diblokir .”Faktanya, tak ada pejabat yang diperiksa terkait dengan pemberian uang itu,” ujar Gayus.

Menurut Gayus, ia baru sadar ditipu Haposan setelah berbincang dengan mantan Kepala Badan Reserse Kriminal Komisaris Jenderal Susno Duadji, saat sama-sama menjadi tahanan di Markas Komando Brigade Mobil. Ia mengaku sejak awal ditakut-takuti Haposan dirinya akan ditahan serta harta bendanya akan disita.

Gayus menyebut sejumlah petinggi polisi yang mestinya juga dimintai pertanggung jawaban dalam kasus Surya Alam ini. Mereka adalah Brigadir Jenderal Edmon Ilyas, mantan Direktur Ekonomi Khusus Bareskrim Markas Besar Kepolisian RI, Brigadir Jenderal Raja Erizman-juga bekas Direktur Ekonomi Bareskrim-serta Komisaris Besar Pambudi Pamungkas, mantan Kepala Unit Pencucian Uang. Mereka, menurut dia, yang antara lain berperan mengubah status Robertus Antonius, konsultan pajak yang sebelumnya tersangka seperti dirinya, menjadi saksi. Termasuk memerintahkan pemeriksaan di luar kepolisian.

Baik Ditjen Pajak maupun kepolisian menampik tudingan yang dilemparkan Gayus dalam pleidoi itu. “Institusi kami terbuka. Tapi harus jelas mana penyelewengannya,” kata Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat Ditjen Pajak Iqbal Alamsyah. Adapun Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri Komisaris Besar Boy Rafly Amar menyatakan kasus Gayus ini belum seluruhnya tuntas. Sejumlah barang bukti yang diserahkan Gayus, ujarnya, tetap akan dipakai kepolisian. “Penyidikan masih terus dilakukan.”

Jaksa memandang yang disampaikan Gayus tak lebih dari upaya pegawai pajak yang kini sudah dipecat sekadar membela diri. “Dalil yang disampaikan tidak berfokus pada upaya mematahkan pembuktian atas dakwaan,” ujar jaksa Kuntadi. Dalam pembacaan replik-sebagai jawaban atas pleidoi Gayus-Kuntadi menyatakan yang diungkapkan Gayus tentang mafia pajak merupakan indikasi awal adanya tindak pidana lain yang tidak ada hubungannya dengan perkara yang didakwakan terhadap dirinya.

Gayus kini menghadapi empat dakwaan. Pertama, tuduhan memperkaya diri sendiri atau orang lain berkaitan dengan dikabulkannya keberatan pajak PT Surya Alam Tunggal; kedua, gratifikasi, yaitu memberikan sejumlah duit kepada polisi; ketiga, penyuapan terhadap hakim Muhtadi Asnun; dan keempat, upaya menghalang-halangi penyidikan berkaitan dengan duit miliaran rupiah yang diakui Gayus milik Andi Kosasih. Atas empat dakwaan ini, Gayus pekan lalu dituntut 20 tahun penjara.

Di luar itu, sejumlah kasus kini juga menunggu untuk dijeratkan kepada pria 31 tahun ini. Misalnya, kasus uang miliaran rupiah dalam rekeningnya yang kini di tangan penyidik Polri, kepergiannya nonton tenis di Bali, dan kini bertambah lagi, soal pemalsuan paspor dan pelesirannya ke Makau, Kuala Lumpur, serta Singapura.

Ramidi, Febriyan, Dianing Sari

Langkah Denny Unggah Foto Gayus ‘Sony Laksono’ ke Twitter Dikecam

5 Jan

Metrotvnews.com, Jakarta: Staf Ahli Presiden Bidang Hukum Denny Indrayana mengunggah foto paspor pria mirip terdakwa Gayus Halomoan Tambunan bernama “Sony Laksono” di  akun Twitter-nya, @dennyindrayana, sekitar tujuh jam lalu, Rabu (5/1). Kontan saja, hal tersebut menimbulkan sejuta tanya di benak banyak pihak.

“Ini foto Gayus dng wig di paspor “Sony Laksono”. Nama samaran yg sama ketika Gayus nonton tenis ke Bali. http://plixi.com/p/6790405,” tulis Denny. Dalam foto tersebut pria yang disebut “Sony Laksono” sangat mirip tersangka kasus mafia pajak Gayus Halomoan Tambunan. Pria tersebut memakai kacamata dan memiliki rambut mirip Gayus saat menonton pertandingan di tenis di Bali.

Menanggapi ini, anggota Komisi III DPR RI Gayus Lumbuun mencurigai aksi yang dilakukan oleh Sekretaris Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum tersebut. Ia melihat hal ini sangat janggal. Bagaimana bisa dengan cepat Denny mendapatkan paspor “Sony Laksono” dan mengunggahnya di akun Twitter-nya.

Hal itu dikatakan Gayus di Gedung DPR/MPR RI, Jakarta, Rabu (5/1). Politikus PDI Perjuangan ini curiga langkah Denny ini memiliki agenda tertentu. Bahkan, cenderung mempolitisasi dan mengarahkan masalah ini kepada seseorang. “Dulu diarahkan kepada Aburizal Bakrie, sekarang kepada siapa lagi targetnya,” tanya  Gayus

Gayus pun melihat, Satgas Pemberantasan Mafia Hukum bukan lembaga penegak hukum seperti Kepolisian, KPK dan Kejaksaan Agung. Maka seharusnya Denny  tidak mempublikasikan hasil temuannya tapi melaporkan kepada aparat penegak hukum.

“Apa yang dilakukan oleh Denny tidak sesuai dengan prosedur dan menimbulkan spekulasi di masyarakat. Satgas Pemberantasan Mafia Hukum itu bukan penegak hukum,” kata Gayus.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi III DPR RI Azis Syamsuddin mengatakan, apa yang

dilakukan oleh Satgas Pemberantasan Mafia Hukum dan Denny adalah rekayasa dengan target-target politik. “Satgas itu mempunyai agenda tertentu dan hal tersebut sudah tidak benar. Dari awal, kami sudah curiga dengan Satgas tersebut,” kata politikus dari Golkar itu.

Azis meminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk membubarkan Satgas tersebut. “Kalau mau selaras dengan penegakan hukum di negeri ini, Presiden SBY sebaiknya membubarkan Satgas PMH tersebut,” kata Azis.(Andhini)

Selengkapnya baca: di http://www.metrotvnews.com/metromain/news/2011/01/05/38582/Langkah-Denny-Unggah-Foto-Gayus-Sony-Laksono-ke-Twitter-Dikecam

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.