Arsip | 12:17 pm

Sasaran penjahat cyber 2011

10 Jan
Vendor keamanan McAfee merilis sasaran utama serangan cyber tahun 2011, mulai dari produk-produk Apple hingga sejumlah layanan gratis yang makin banyak digemari. Simak baik-baik dan waspadalah, waspadalah, waspadalah…!

 

1. URL-shortening service
Layanan penyingkat URL atau URL-shortening service makin banyak digunakan dengan situs seperti Twitter yang menjadi pendongkraknya. Layanan yang mampu meringkas alamat situs seperti bit.ly dan TinyURL ini ternyata mengeluarkan 3.000 URL setiap menitnya, demikian menurut McAfee Lab. Maka tak mengherankan jika layanan ini menjadi sasaran empuk kriminal cyber. Diprediksi, mereka akan memanfaatkan layanan tersebut untuk menyuntikkan spam, scam (penipuan online) dan program jahat lainnya.

 

2. Layanan Geolocation
Bagi Anda yang gemar memakai Foursquare, sebaiknya berhati-hati karena ia juga diprediksi menjadi incaran penjahat cyber. Para penjahat ini akan dengan mudahnya mengetahui siapa yang sedang nge-tweet, di mana lokasinya dan apa yang mereka katakan. Bahkan, ketertarikan user dan sistem operasi serta aplikasi yang dipakai bisa dilacak pula secara real time. McAfee mengatakan, dengan informasi yang diterbitkan (publish) secara online tersebut, akan memudahkan para penjahat untuk menciptakan serangan yang matang. Selain Foursquare, pengguna layanan geolokasi Gowalla dan Facebook Place juga harus waspada.

 

3. Perangkat Mobile
Data yang disimpan di ponsel juga masuk dalam daftar incaran cyber attack 2011. Dengan makin banyaknya pengguna smartphone yang dikombinasikan dengan kerentanan infrastruktur selular plus lemahnya enskripsi, McAfee mengatakan bahwa para pemilik data akan berisiko besar menghadapi serangan.

 

4. Produk Apple
McAfee mengingatkan bahwa ancaman serangan malware (program berbahaya) pada pengguna Mac akan meningkat tajam di tahun 2011 meski platform Mac OS dikenal kuat. Dan mengingat iPad serta iPhone menjadi bisnis yang menggiurkan, maka ada kemungkinan aksi pengeksposan data dan identitas penggunanya juga terjadi.
5. Platform Web yang Terkoneksi dengan TV

Web-connected TV platforms seperti Google TV menurut McAfee akan menjadi target bagi aplikasi jahat. Aplikasi ini akan mentargetkan atau mengekspos data pribadi yang nantinya akan memungkinkan penjahat cyber memanipulasi sejumlah piranti lewat aplikasi yang dikontrol tersebut.

6. Situs kontroversial
Kasus situs kontroversial Wikileaks sepertinya akan memicu aksi hacktivism, ungkap McAfee. Aksi hacktivism akan menyerang situs-situs tertentu dengan latar belakang politik dan inilah yang akan menjadi bentuk baru dari demonstrasi politik.

Sumber: Jetlib
Artikel ini ditulis ulang di blog ini tidak untuk mendukung kepentingan McAfee menjual perangkat keamanan, namun semata sebagai informasi saja. jadi bukan sebuah rekomendasi iklan.

Jangan pernah bergeser dari niat Iklas

10 Jan

Ikhlas kalimat yang mudah dikatakan dan diucapkan tapi sulit bahkan sangat sulit dilakukan, apalagi oleh orang-orang yang masih mendambakan atau menghambakan dengan setiap kegiatan untuk mendapatkan penghasilan atau uang.

Ikhlas adalah dasar diterima atau tidaknya sebuah amal. Apalah arti sebuah prestasi jika Allah swt. tidak menganggapnya sebagai sebuah bakti. Mungkin, manusia bisa tertipu dengan hiasan-hiasan amal yang ditampilkan. Tapi, Allah Maha Tahu apa yang tersembunyi di balik hati seorang hamba. Sekecil apa pun.
Keanggunan hiasan dunia kadang membuat hati manusia tertipu, terpedaya. Buat siapa pun, termasuk hamba Allah yang giat beramal. Bahkan, seorang sahabat Rasul sekali pun. Kisah kurang amanahnya pasukan pemanah pimpinan Abu Ubaidah pada Perang Uhud memberikan pelajaran tersendiri. Mereka siap menempuh bahaya seganas apa pun. Tapi, tak sesiap itu ketika menatap lambaian ghanimah. Kenikmatan dunia memperdaya mereka, merontokkan komitmen mereka terhadap perintah Rasul: “Apa pun yang terjadi, kalian harus tetap di bukit ini!”
Tidak heran, jika Allah swt. mengajarkan Thalut untuk menguji kesetiaan pasukannya dengan sungai. Buat kondisi jazirah Arab yang panas, sungai merupakan perwujudan standar dari bentuk kenikmatan dunia: menggiurkan di saat dahaga, menyejukkan di saat panas terik membakar. Kalau pada takaran standar saja mereka rontok, apatah lagi dengan kenikmatan yang lebih besar. Dan peperangan yang akan mereka hadapi bukan sekadar menumbangkan Jalut, tapi mengendalikan diri dari hamparan kenikmatan yang dimiliki Jalut. Mampukah?
Tidak ada yang mampu mengawasi jati diri seorang hamba kecuali Allah dan dirinya sendiri. Dirinyalah yang tahu, apakah niatnya masih lurus. Atau, sudah bergeser. Dan kelak, ia akan menuai amal yang pernah ia tanam. Bagus atau buruk.
Biasakan untuk senantiasa memberi, bukan sebaliknya
Manusia memang tak bisa lepas dari tarikan dunia. Karena, sebagian dirinya berasal dari unsur tanah yang berarti bagian dari wujud dunia. Ia butuh makan, minum, tempat tinggal, pasangan, keluarga, status sosial, dan sebagainya. Tinggal, bagaimana ia mengelola keakrabannya dengan dunia.

Orang yang akrab dengan sesuatu biasanya akan cinta. Dan cinta menjadikan seseorang sulit dipisahkan dengan yang dicintai. Karena itu, sebelum seseorang terlanjur mencintai dunia, ia harus melatih diri untuk secara rutin berpisah. Biar kecil, tapi rutin.

Di situlah mungkin, di antara hikmah Allah swt. mewajibkan infak buat orang-orang yang beriman. Tak ada keuntungan sedikit pun buat Allah. Karena, tak satu pun benda di alam ini melainkan dari-Nya. Semua manfaat itu akan kembali kepada manusia itu sendiri.

Sekilas, memberi terasa merugikan. Karena, ada bagian kepemilikannya yang dikorbankan buat orang lain. Tapi, justru di situlah seorang yang mudah memberi akan merasakan manfaat. Selain menyeimbangkan keakrabannya dengan dunia, memberi adalah bentuk investasi lain buat kepemilikan yang lebih berharga dari materi yang ia korbankan. Selain balasan dari Allah, ia akan mendapatkan nilai sosial lebih. Harga sosialnya akan semakin mahal, tanpa ia sadari (percayalah itu sudah saya lakukan).

Allah swt. berfirman, “Ada pun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (QS. Al-Lail: 5-7)

Turunan dari memberi begitu banyak. Rasulullah saw. sering menganjurkan kita untuk bersedekah, memberi hadiah, menolong orang yang kesulitan dana, mengurus anak yatim, dan lain-lain. Karena itu, bersikaplah untuk senantiasa siap memberi buat orang lain. Bukan, berharap-harap apa yang mesti orang lain berikan kepada kita.

Jadilah seperti seorang penjual, bukan pembeli

Perbedaan mendasar antara seorang penjual dengan pembeli adalah sikap mental. Seorang penjual punya sikap pelayanan. Dan pembeli punya sikap memilih-milih, tidak merasa perlu. Apa pun yang dituntut pembeli, penjual akan menyesuaikan diri. Bahkan, ia harus siap dicela, dimarahi pembeli, tanpa memperlihatkan reaksi ketidaksukaan. Apalagi perlawanan. Dan, manajemen modern membenarkan itu.
Begitu pun kita dalam beramal. Kehidupan seorang hamba Allah di dunia ini tak lain adalah seorang penjual. Dan Allahlah Si Pembeli. Pembeli bisa menentukan kriteria apa saja atas barang yang dibeli. Dan penjual wajib memenuhi, jika dagangannya mau terjual.

Allah swt. berfirman dalam surah At-Taubah ayat 111, “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Alquran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka, bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.”

Tak ada satu penjual pun yang santai-santai saja menyambut tawaran harga tinggi dari seorang pembeli. Dan harga apalagi yang lebih tinggi dari surga yang penuh kenikmatan. Dan satu lagi. Tak ada penjual yang sedemikian cintanya dengan dagangannya sehingga ia tak akan pernah menjual. Teramat bodoh seorang penjual yang bersikap, “Biarlah saya tak untung, yang penting barang dagangan yang saya cintai tak terjual!”
Saat itu, ia bukan lagi seorang penjual. Tetapi, penikmat.

Seorang hamba Allah yang cerdas tak akan terperdaya dengan dunia. Seindah apa pun, ia tampil. Segemerlap apa pun dunia bersolek. Karena dalam pandangan Allah, dunia tak senilai saya nyamuk. Rasulullah saw. bersabda, “Andaikan dunia itu senilai dengan sayap nyamuk di sisi Allah, maka Allah tidak akan memberi minum kepada orang kafir walaupun seteguk air dari dunia.”
(HR. Tirmidzi)
Semoga bermanfaat

Cerita Gayus Lagi

10 Jan

Bersumpah demi Ibu dan Anak

Pleidoi setebal 18 halaman itu dibacakan Gayus Halomoan berapi-api di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin pekan lalu. Diberi judul cukup puitis, “Indonesia Bersih… Polisi Risih… Saya Tersisih”, isinya menohok ke mana-mana: kepolisian, kejaksaan, pengacaranya, juga “almamater”-nya, Direktorat Jenderal Pajak.

Gayus, misalnya, menuding polisi tak serius mengusut sejumlah informasi yang sudah ia beberkan. Menurut Gayus, kasus yang menjerat dirinya itu juga tergolong kecil dibanding kasus lain di Ditjen Pajak. Penyelewengan itu ada yang melibatkan sejumlah pejabat dan merugikan negara hingga triliunan rupiah. “Sepertinya ada setting melokalisasi perkara hanya pada perkara saya,” ujarnya.

Gayus membeberkan lima modus permainan pajak yang kerap terjadi, di antaranya negosiasi Surat Ketetapan Pajak. Negosiasi, ujar Gayus, terjadi di tingkat tim pemeriksa pajak dengan tujuan meningkatkan dan menurunkan nilai pajak. “Surat Ketetapan Pajak tak mencerminkan nilai yang sebenarnya.”

Modus lain, kata Gayus, terjadi di tingkat penyidikan pajak. Dalam kasus ini, wajib pajak akan ditakut-takuti untuk dijadikan tersangka oleh penyidik. “Yang ujung-ujungnya adalah uang,” dia menambahkan. Ketiga, modus penyelewengan fiskal luar negeri di bandar-bandar udara internasional. Keempat, modus penghilangan berkas surat permohonan keberatan wajib pajak. Dan kelima, jual-beli saham antarperusahaan satu grup. Pembelian saham ini, menurut dia, sering diklaim sebagai kerugian investasi sehingga kerugian itu dibebankan sebagai biaya.

Gayus mengkritik pedas tim independen pimpinan Matius Salempang, yang memeriksa dirinya pada April 2010. Gayus menyatakan dirinya menyesal mengikuti permainan tim independen.

Menurut Gayus, kasus PT Surya Alam Tunggal merupakan skenario yang dibuat tim Matius untuk menjerat atasannya, Bambang Heru Ismiarto, Direktur Keberatan dan Banding Ditjen Pajak. “Karena Bambang Herulah kunci dikabulkannya kasus-kasus besar di direktorat tersebut,” katanya. Jika kunci ini dibuka, ujarnya, kasus penyelewengan pajak kelas kakap di direktorat itu bisa terungkap.

Tapi, kata Gayus, ternyata semua berbalik dan justru dirinya dan rekannya, Humala Napitupulu, jadi tersangka. Padahal, menurut Gayus, sesungguhnya tak ada permainan pajak dalam kasus PT Surya Alam. “Saya bersumpah demi Tuhan dan demi ibu yang melahirkan saya, serta anak saya yang sangat saya sayangi, keberatan PT Surya Alam Tunggal seribu persen sesuai dengan prosedur,” kata Gayus.

Gayus juga menyatakan kecewa atas janji tim independen dalam kasus hakim Muhtadi Asnun. Awalnya, kata dia, tim ini berjanji akan menjerat Asnun dengan pasal pemerasan asal dirinya bersedia buka mulut soal pemberian uang terhadap hakim itu. Belakangan penyidik mengenakan pasal penyuapan dalam kasus ini. Maka dirinya pun jadi tersangka penyuap.

Bekas pengacaranya, Haposan Hutagalung, juga dituding Gayus telah mempermainkan dirinya. Dalam menangani kasus korupsi dan pencucian uang pada 2009, ujarnya, Haposan minta uang operasional Rp 20 miliar untuk dibagi-bagikan kepada polisi, jaksa, hakim, dan Haposan sendiri. Alasannya, uang itu untuk memuluskan perkara agar ia tak ditahan, rumahnya tak disita, dan rekening keluarganya tak diblokir .”Faktanya, tak ada pejabat yang diperiksa terkait dengan pemberian uang itu,” ujar Gayus.

Menurut Gayus, ia baru sadar ditipu Haposan setelah berbincang dengan mantan Kepala Badan Reserse Kriminal Komisaris Jenderal Susno Duadji, saat sama-sama menjadi tahanan di Markas Komando Brigade Mobil. Ia mengaku sejak awal ditakut-takuti Haposan dirinya akan ditahan serta harta bendanya akan disita.

Gayus menyebut sejumlah petinggi polisi yang mestinya juga dimintai pertanggung jawaban dalam kasus Surya Alam ini. Mereka adalah Brigadir Jenderal Edmon Ilyas, mantan Direktur Ekonomi Khusus Bareskrim Markas Besar Kepolisian RI, Brigadir Jenderal Raja Erizman-juga bekas Direktur Ekonomi Bareskrim-serta Komisaris Besar Pambudi Pamungkas, mantan Kepala Unit Pencucian Uang. Mereka, menurut dia, yang antara lain berperan mengubah status Robertus Antonius, konsultan pajak yang sebelumnya tersangka seperti dirinya, menjadi saksi. Termasuk memerintahkan pemeriksaan di luar kepolisian.

Baik Ditjen Pajak maupun kepolisian menampik tudingan yang dilemparkan Gayus dalam pleidoi itu. “Institusi kami terbuka. Tapi harus jelas mana penyelewengannya,” kata Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat Ditjen Pajak Iqbal Alamsyah. Adapun Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri Komisaris Besar Boy Rafly Amar menyatakan kasus Gayus ini belum seluruhnya tuntas. Sejumlah barang bukti yang diserahkan Gayus, ujarnya, tetap akan dipakai kepolisian. “Penyidikan masih terus dilakukan.”

Jaksa memandang yang disampaikan Gayus tak lebih dari upaya pegawai pajak yang kini sudah dipecat sekadar membela diri. “Dalil yang disampaikan tidak berfokus pada upaya mematahkan pembuktian atas dakwaan,” ujar jaksa Kuntadi. Dalam pembacaan replik-sebagai jawaban atas pleidoi Gayus-Kuntadi menyatakan yang diungkapkan Gayus tentang mafia pajak merupakan indikasi awal adanya tindak pidana lain yang tidak ada hubungannya dengan perkara yang didakwakan terhadap dirinya.

Gayus kini menghadapi empat dakwaan. Pertama, tuduhan memperkaya diri sendiri atau orang lain berkaitan dengan dikabulkannya keberatan pajak PT Surya Alam Tunggal; kedua, gratifikasi, yaitu memberikan sejumlah duit kepada polisi; ketiga, penyuapan terhadap hakim Muhtadi Asnun; dan keempat, upaya menghalang-halangi penyidikan berkaitan dengan duit miliaran rupiah yang diakui Gayus milik Andi Kosasih. Atas empat dakwaan ini, Gayus pekan lalu dituntut 20 tahun penjara.

Di luar itu, sejumlah kasus kini juga menunggu untuk dijeratkan kepada pria 31 tahun ini. Misalnya, kasus uang miliaran rupiah dalam rekeningnya yang kini di tangan penyidik Polri, kepergiannya nonton tenis di Bali, dan kini bertambah lagi, soal pemalsuan paspor dan pelesirannya ke Makau, Kuala Lumpur, serta Singapura.

Ramidi, Febriyan, Dianing Sari

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.